
Pernahkah Kamu menyayangi seseorang, namun Kamu merasa bahwa Kamu tidak bisa atau bahkan tidak mungkin memilikinya?
Lalu, apa yang Kamu lakukan??
Aku sungguh tidak menyadari hal ini akan terjadi sebelumnya.
Bahkan, memikirkannya pun tidak.
Cerita ini berawal sekitar dua tahun yang lalu.
Siang itu salah satu teman memposting kabar duka memposting kabar duka
di sebuah grup komunitasku di salah satu jejaring sosoial terbesar dunia.
Kisahya membuatku miris. Bahkan ingin rasanya Aku menangis.
Seorang gadis sedang berjuang melawan penyakitnya dan terbaring lemah di rumah sakit dalam keadaan koma.
Temanku tersebut meminta bantuan doa sebagai bentuk dukungan kepada gadis tersebut.
Lewat kontak person keluarganya yang terposting, Aku mengirimkan pesan singkat yang isinya tentang keprihatinanku terhadap gadis tersebut.
Sang Kakak membalas pesanku, bercerita tentang keadaan sang gadis saat itu.
Bahkan tak lama Ia meminta untuk mengirimkan sebuah pesan suara untuk membuat sang gadis siuman.
Terbayang bagaimana keadaan keluarga sang gadis, terlihat jelas kesedihan dalam pesan singkatnya.
Aku pun mencoba mengirim pesan suaraku. Bukan doa, hanya kata - kata penyemangat.
Berharap sang gadis tersebut bisa tetap kuat dan berjuang melewati masa kritisnya.
Sang kakak pun berterima kasih atas doa dan dukungan Kami, karena aku pikir pesan tersebut adalah pesan yang dikirim secara massal.
Waktu bergulir.
Aku pun sibuk dengan pekerjaanku.
Lupa, mungkin. Sepertinya Aku melupakan kabar sang gadis.
Hingga sebuah pesan singkat masuk di ponselku.
Rupanya sang kakak. Ia berterima kasih sembari mengabarkan kalau sang gadis telah siuman dan sudah membaik.
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahma-Nya.
Aku pun tersenyum lega.
Selang beberapa hari Aku berteman dengan gadis tersebut.
Lewat sms atau jejaring sosial, entahlah. Aku tak yakin mana yang pertama.
Gadis tersebut pun berterima kasih untuk doa dan dukunganku lewat sms mau pun mms.
Rupanya dia telah mendengar pesan suaraku.
Aku pun tersenyum.
Tak terasa kami pun akrab.
Bukan, bukan cuma kepadaku. Tetapi juga dengan teman - teman komunitasku di jejaring sosial.
Ternyata Kami punya minat yang sama, karena gadis itu pun rupanya merupakan angggota dari komunitasku juga.
Dan agaknya dia sangat akrab dengan teman - temanku. Aneh.
Aneh kupikir. Karena selama Aku bergabung dan kopi darat denga teman - teman komunitasku, Aku sama sekali tidak pernah melihatnya. Bahkan namanya sangat asing ditelingaku.
Namun setelah kejadian itu Aku jd lebih mengenal gadis itu.
Ceria, jail, rame, penuh semangat.
Gadis seperti itulah dia. Seperti gadis normal.
Hampir saja Aku lupa kalau gadis tersebut "sakit".
Cukup miris rasanya melihat kenyataan bahwa gadis seperti dia "sakit".
Menurutku dia punya masa depan yang masih panjang.
Hari demi hari Aku semakin kenal dengannya.
Dan jawaban dari keherananku tentang dia pun terungkap.
Rupanya dia sama sekali belum pernah bertemu dengan teman - temanku di komunitas.
Fakta yang cukup mencengangkan bagiku.
Karena dia terlihat sangat akrab dengan teman - temanku, bahkan rasanya dia lebih tenar di karena semua temanku kenal dia.
Rasanya ingin tertawa, seolah tak percaya tapi itulah kenyataannya.
Salut, itu membuktikan bahwa gadis itu bukan gadis biasa.
Keakraban kami berlanjut.
Tak jarang dia curhat mengenai kehidupannya.
Mungkin banyak orang yang memimpinya bisa hidup seperti dia.
Tapi lagi - lagi hanya miris di hatiku mendengar pengakuannya.
Lama tak terdengar, Ku dapati kabar bahwa dia kembali koma.
Kesehatannya memburuk.
Aku pun sedih, dan kembali tersenyum saat dia siuman.
kejadian itu pun terulang beberapa kali.
Hingga sang kakak mengabarkan bahwa akan dilakukan sebuah operasi di negeri tetangga.
Doaku beserta teman - temanku pun selalu menyertainya.
Ya, sangat mudah bagi orang asing pun untuk menyayanginya.
Operasi pun berjalan lancar.
Alhamdulillah, Allah pun memberkatinya.
Dia pun dinyatakan sembuh.
Sebuah berita yang sangat menggembirakan.
Banyak cerita tentang dia, meski sampai detik ini Aku belum pernah bertatap muka dengannya.
Cerita suka saat dia kembali pulih atau siuman, duka saat dia harus di tinggal sang Bunda tersayang untuk selamanya.
Bagaimana sedihnya dia.
Bagaimana senanganya dia.
Bagaimana jahilnya dia, bahkan pernah satu waktu dia memintaku untuk menemuinya di salah satu tempat wisata.
Saat itu Aku berdua dengan temanku sedang di jalan hendak pulang dari sebuah Mall.
Aku pun meminta temanku untuk mampir sejenak ke sana.
Saat aku sampai di tempat tersebut Aku pun mencarinya.
Di saat Aku kebingungan.
Lewat sms dia bilang bahwa dia sudah melihatku dan sudah saatnya untuk dia pulang.
Aku pun meminta temanku untuk segera pulang.
Temanku nampak kesal, dia pun berkata kalau Aku sudah dikerjai.
Mungkin, tapi tak mengapa bagiku.
Aku tersenyum dalam hati.
Meski Aku belum bisa bertatap muka, tapi paling tidak dia sudah melihatku.
Entah mengapa Aku hanya ingin dia merasa "senang".
Dia bilang kalau Aku cupu. Aku pun tertawa.
Setelah itu dua kali dia mengajakku bertemu kembali.
Tapi sepertinya Allah belum mengijinkan kami bertemu.
Seperti beberapa hari yang lalu. Di satu pagi dia ingin sekali bertemu denganku.
Aku pun menyuruhnya untuk beristirahat karena semalam dia baru saja pulang dari luar kota dan lusa dia harus kembali ke luar negeri.
Namun dia sangat ingin bertema, karena dia berfirasat kalau dia takkan mungkin kembali.
Aku pun memintanya untuk bicara yang baik - baik.
Ya, Aku tak ingi kehilangan dia.
Aku pun segera mandi dan pergi untuk menjemputnya ke rumah meski Aku tak tahu alamat pastinya.
Ya, selama ini dia tak pernah bercerita tentang tempat tinggalnya.
Aneh??
Tidak, Aku mengerti.
Privasinya sangat tinggi.
Bahkan di awal - awal kenal dia sempat memberikan alamat palsu.
Meski begitu Aku tetap pergi menjemputnya.
Tak lama dia membalas sms kalau dia tidak bisa keluar.
Tapi Aku tak putus semangat, Aku hanya ingin bertemu.
Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Aku berputar berusaha mengira-ira di mana rumahnya.
Dia memintaku untuk pulang.
Dari smsnya terlihat dia sangat sedih.
Dia ingin bertemu, tapi tidak bisa.
Hal itu justru membuatku untuk tidak menyerah mencari meski sia - sia.
Aku tak berhasil, sms ku tak lagi di balas.
Aku pun kembali mengirim sms, memutuskan untuk pulang.
Lagi - lagi Allah belum mengijinkan, Aku takkan pernah berhenti berharap untuk itu.
Sore hari dia minta maaf dan dia mengabarkan kalau kesehatannya turun.
Aku pikir dia terlalu capek. Dia pun berharap hanya "capek".
Kini, dia sudah jauh di sana.
Aku berharap firasatnya salah.
Aku berharap dia bisa kembali ke tanah air.
Meski mungkin Aku dan dia tak bertemu, tapi sangat senang mendengar celotehnya lewat sms.
Tuhanku...
Jaga, lindungi, tuntun dan temani dia di sana untukku.
-Ich vermisse dich wirklich-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar